Saya Itu, Sukanya Mbanding-Mbandingin…

Kok bukan saya sih yang mendapatkannya…”

Coba saya yang nasibnya seperti itu…”

Dan lain-lain perkataan yang sejenis. Pernah mengalaminya? Jujur saja, saya pernah. Yang terakhir, kemarin kalau tidak salah.

Ketika membaca sebuah ‘kisah nyata’ seseorang bagaimana ia berjuang untuk mendapatkan apa yang sekarang ini dipunyainya, ada lintasan dalam hati: “Kok saya tak seperti itu?”

Yup, ini adalah virus membanding-bandingkan! Berbahaya? nurut saya sih, IYA. Mengapa? karena ia bisa menghilangkan satu kata yang sangat penting dalam kehidupan di dunia ini: SYUKUR.

Alhamdulillah-nya, ketika pikiran sedang bertarung antara membiarkan rasa kurang itu dengan orang lain, di radio streaming online yang saya dengar, seorang ustadz justru tengah membahas ini. Qadarallahu wa mashaa fa’al

Sang ustadz tengah menjelaskan bagaimana supaya kita tak gampang galau! Caranya? dengan mensyukuri apa yang Allah telah karuniakan kepada kita. Dan cara ampuh supaya bisa mengusir galau, lantaran ada yang nasibnya lebih baik daripada kita (tentu, dengan kacamata yang kita pakai), adalah dengan…

  • melihat ke BAWAH, untuk urusan materi dunia
  • melihat ke ATAS, untuk urusan ibadah

JANGAN sampai terbalik! Ini tentunya bukan perkataan ustadz, karena beliaunya tengah menyitir sebuah hadits yang kita sudah sama ketahui yang bunyinya:

Lihatlah kepada orang yang berada dibawahmu dan jangan melihat orang yang berada diatasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.”

(Hadist shahih, riwayat Imam Bukhari (no 6490), Muslim (no 2963), at Tirmidzi (no 2513) dan Ibnu Majah (no 4142))

Membanding-bandingkan materi, jabatan, dan lain-lain yang kita punya di dunia ini, dengan mereka yang lebih berhasil, hanya akan membuat seseorang tidak bersyukur. Ibarat minum air laut, makin direguk, bukan terpuaskan dahaga itu, justru makin kering tenggorokan itu akan gelimang harta.

Ujung-ujungnya, yang keluar dari mulut kita alih-alih ucapan hamdalah, malah (bahkan) bisa sumpah serapah. Innalillahi…

Dan yang juga perlu dan patut diingat, jangan keliru menempatkan kaidah penting ini. Untuk masalah akhirat, justru kita dimotivasi untuk melihat yang lebih atas daripada kita:

Waduh…kecil-kecil begitu sudah banyak ya hafalan Qur’annya..”

Meski sibuk dengan posisinya sebagai direktur, ternyata si Fulan itu tepat waktu lho sholatnya…”

Nah, kalau dibanding-bandingkan seperti kalimat-kalimat di atas ini, kita harus termotivasi. Bukan kemudian sebaliknya: “Sudah lumayan saya shalat lima waktu, tetangga depan yang rumahnya mewah itu saja, cuman sepekan sekali shalatnya. Tiap Jumat saja…”

Kalau kebalik begini, belaen kata orang Jawa! Nurut kamu?!

About these ads

17 comments on “Saya Itu, Sukanya Mbanding-Mbandingin…

  1. matahari_terbit says:

    saya ngiriiii pak.. pada ahli ilmuuuuu =D
    *aseli ini

  2. Novi Kurnia says:

    Alhamdulillah…! Mari kita pasrahh #ehhh!

  3. tipongtuktuk says:

    huwaaa huwaaa huwwaaaa … -menangis tertampar … he he he …

  4. Inspiring nih buat Manajemen Penglihatan. Jazakallahu khairan, Mas Syamsul, insya Allah bermanfaat.

    *kok tiba-tiba jadi kangen dg tulisan2 sampeyan ya, hehehe

  5. Ina says:

    melihat ke atas selain jadi ga bersyukur, bisa bikin penyakit!! mudah2an saya bisa menempatkan pembandingan itu dgn pas. ga kbalik… amin

  6. Mahiazara says:

    terima kasih mengingatkan om..
    keluhanmu tidak akan mengubah apapun, syukurmu bisa jadi..

    kemana aja om, kok baru muncul ya..?

  7. umarfaisol says:

    Wah lama tidak berkunjung ke sini. Tetap seperti dulu, ladang ilmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s