بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
قُلۡ هُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ
اَللّٰہُ الصَّمَدُ
لَمۡ یَلِدۡۙ وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ
وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّهّ کُفُوًا اَحَدٌ
Bismillah ir-Rahman ir-Raheem
- Qul huwa Allah hu ahad
- Allah hu ‘s-samad
- Lam yalid wa lam yulad
- Wa lam yakun lahu kufuwan ahad
Sudah pada hafal khan dengan surat yang satu ini?
Surat pendek yang terdiri dari 4 ayat itu, mudah dihafal. Anak saya yang paling kecil -walhamdulillah- sudah hafal surat ini, apatah lagi anda bukan?
Nah, salah satu hadits yang menginspirasi saya, adalah tentang seorang sahabat yang senantiasa membaca surat ini ketika menjadi imam shalat. Kalau di masa sekarang, barangkali para imam -wabil khusus pas shalat tarawih- membaca karena menghemat waktu, akan tetapi beda dengan sahabat ini yang membacanya karena CINTA kepadanya.
Tak urung, kebiasaan membaca surat pendek ini, menimbulkan pertanyaan kepada para jamaahnya, yang kemudian segera menanyakan kepada Rasulullah, dan beliau pun menyuruh orang untuk bertanya, apa alasan sahabat ini membaca surat tersebut.
Menjawab pertanyaan ini, maka si sahabat itu pun menjawab bahwa ia melakukannya karena dilandasi oleh rasa cinta kepada surat Al Ikhlash ini. Maka ketika Rasulullah mendengar jawaban ini, beliau bersabda: “Kecintaanmu kepada surat itu, akan membuatmu masuk surga“
Coba simak kelengkapan bunyi haditsnya:
Ubaidullah berkata dari Zaid bin Tsabit: dari Anas, “Salah seorang Anshar shalat mengimami orang-orang Anshar yang lain di Masjid Quba’. Sudah menjadi kebiasaannya membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ (setelah membaca surah al-Faatihah) apabila dia hendak membaca suatu bacaan di dalam shalat. Setelah selesai membaca surah itu (Qul Huwallaahu Ahad), dia membaca surah yang lain bersamanya. Hal itu ia lakukan pada setiap rakaat. Beberapa orang kawannya mengemukakan pembicaraan atau saran kepadanya dengan berkata, ‘Sesungguhnya Anda membaca surah itu dan tidak menganggapnya cukup, dan Anda membaca surah yang lain. Bagaimana kalau Anda membaca surah itu saja atau meninggalkannya dan membaca yang lain?’ Orang Anshar itu menjawab, ‘Aku sama sekali tidak akan meninggalkan bacaan surah ‘Qul Huwallahu Ahad’ itu. Oleh sebab itu, kalau kamu semua masih senang jika aku menjadi imam untukmu dengan cara sebagaimana yang kulakukan itu, maka aku akan mengerjakan (bertindak sebagai imam). Dan, jika kamu sudah tidak senang terhadap yang demikian itu, biarlah aku tinggalkan kamu.’ Mereka mengetahui bahwa dia adalah orang yang terbaik di antara mereka. Mereka pun tidak ingin orang lain menggantikannya untuk mengimami mereka. Pada waktu Nabi saw. datang kepada mereka seperti biasanya, mereka memberitahukan hal itu kepada beliau. Lalu Nabi bersabda kepada orang itu, ‘Hai Fulan, apa yang melarangmu dari melakukan sesuatu yang dimintai oleh sahabat-sahabatmu? Dan, apa yang mendorongmu untuk senantiasa membaca surah itu di dalam setiap rakaat?’ Dia menjawab, ‘Aku menyukai surah itu.’ Nabi bersabda, ‘Kecintaanmu kepada surah itu akan membuatmu masuk surga.’” [HR. Bukhari]
Masya Allah…
Surat Al Ikhlash ini memang sarat dengan tauhid. Dinyatakan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari sahabat Abu Said Al Hudry radiyallahu anhu, bahwasanya Al Iklash ini 1/3 dari Al Qur’an. Mengapa? karena secara garis besar, isi Al Qur’an mengandungi tauhid, ahkam (hukum-hukum), dan kisah-kisah. Dan surat Qulhu ini, mengandungi tauhid.
Sebagian orang kemudian salah dalam memahami, bila membaca surat ini tiga kali = mengkhatamkan Al Qur’an. Tentu tidak demikian. Karena kita ingat keutamaan membaca ayat Qur’an, bahwa 1 huruf Qur’an diganjar 10 hasanah. Dan tidaklah Aliif Lam Miim itu satu huruf, melainkan Aliif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.
Dan keutamaan membaca surat Qulhu lainnya yang juga menunjukkan betapa besar fadhilat dari surat ini, sebagaimana tergambar dari isi hadits berikut ini:
“Siapa yang membaca qulhuwa allahu ahad sampai selesai sebanyak sepuluh kali, maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga.” Umar bertanya: “Kalau begitu kita memperbanyak istana wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Allah lebih banyak dan lebih baik.” (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 589 juz 2:137).
Apa anda (dan terutama SAYA), tidak tertarik untuk mengamalkannya?
Dari paparan singkat tentang surat Al Ikhlash ini, kita bisa mengetahui bagaimana amalan yang mungkin dalam pandangan -sebagian manusia- mudah dan sederhana, namun ternyata mengandung faedah yang demikian besar.
Tentunya, hal ini bersandar kepada keikhlasan dalam mengamalkannya dan yang paling penting juga, ada dalil atau sandaran sah untuk mengatakannya.
Mudah-mudahan, yang sekelumit ini bermanfaat. Wallahu a’lam
petromax…
#kebiasaan di mp
sederhana jika ikhlas itu kereeen.. hehehe
ada kalimat salafush shalih yang menggambarkan demikian mbak;
‘Abdullah bin Mas’ud berkata :
اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة
“Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah.” [HR. ad-Darimi (223), al-Lalika'i (1/55, 88) dan yang selainnya. Atsar ini shohih.]
like thiisss..
jempol mana jempool.. hihihi
nahhh jaar ketemu atsar lagii.. hehe
gini mbak :jempol:
saya like this juga ini, Mas …
*kasih jempol … he he he …
Dapet jempol banyak pagi ini #eaa
Ikut mencatat dalilnya di kertas ctrl-c dan pena ctrl-v
sila mas Iwan
wah nembe ngerti, joss kuwi
sipdah!