Ayahku Memilih Makkah, Untuk Tempatnya Beristirahat (Selamanya)

Ayah mungkin tak bisa melihat-lihat kota Makkah, namun jasadnya telah menetap di kota ini (status BBM adikku)

Image

Sabtu, 16 Februari 2013.

Maskapai penerbangan nasional itu, membawa ayah, ibu dan adik laki-lakiku ke tanah suci. Mereka berencana melaksanakan ibadah umrah. Sesuatu yang sebenarnya, belum terbersit dalam pikiran tahun-tahun sebelumnya lantaran kendala biaya.

Li’, aku pagi ini kok melihat ada onta di depan pintu rumah kita yaaa…?” tanya ayahku kepada ibuku suatu hari tahun lalu. Ia punya kebiasaan memanggil ibuku, dengan namanya sendiri.

Ah, mimpi barangkali..”

Enggak, beneran aku melihatnya…,”begitu kata ayahku.

Dialog itu, masih terekam ketika pada akhirnya ayah bersama ibu dan adikku berangkat di akhir pekan lalu. Padahal 2 (dua) minggu sebelumnya, ayahku masih dalam status rawat inap di sebuah rumah sakit di Surabaya.

Akhir bulan Januari lalu, ia terjatuh di kamar mandi. Tak bisa bangun. Di rumah kami, hanya ada ibu dan adik perempuanku. Ibuku segera menelpon adik laki-lakiku untuk segera pulang dari tempatnya bekerja, dan kemudian segera membawa ayah pergi ke rumah sakit di Surabaya.

2 tahun lalu, karena penyakit batu empedunya makin kronis, maka dilakukanlah operasi mengangkat empedu itu dari tubuh ayahku. Sejak operasi itu, kondisinya gampang kembung, dan terkadang kakinya bengkak.

Usut punya usut setelah dilakukan pemeriksaan macam-macam, terakhir melalui endoskopi, diketahui fungsi liver hati ayahku tak seberapa baik. Maka itu, ia sering mengeluh kembung, dan tak doyan makan.

Akhirnya, setelah mengetahui penyakitnya, pulanglah beliau ke rumah untuk rawat jalan. Tersebab oleh sakit ini, ada kekhawatiran, jadual umrah yang sudah disusun beberapa bulan lalu, batal.

Umrahnya dijadual ulang saja ya Yah?” kata ibuku.

Gak usah, tetap saja. Aku gak papa..,”begitu kurang lebih jawabannya meyakinkan istrinya yang sudah 44 tahun dinikahinya.

Akhirnya, untuk mendukung perjalanan, dimintakanlah surat ijin dari dokter yang merawatnya.

Wah, kalau saya diminta surat begini, saya nggak bisa pak. Kondisi bapak belum stabil..,”kata dokter ketika dimintakan surat keterangan.

Ya sudah dok, tapi saya tetap akan berangkat umrah,” kata ayahku.

Kalau tekad bapak seperti itu, saya nggak berani melarang pak. Ya, tapi saya sudah advise kondisi bapak bagaimana yaaa…”dokter pun mengangkat tangan melihat keteguhan ayahku untuk berangkat ke tanah suci itu.

Skenario Allah itu indah.

Malam, sebelum keberangkatan, aku pun menelpon mereka. Berucap selamat jalan, dan meminta agar sesampai di tanah suci, tak lupa mulut-mulut mereka berucap doa untuk anak-anak mereka yang sangat butuh kepada doa orangtua yang makbul diijabah Allah ta’ala, apalagi berada di tempat yang makbul pula.

Tringgg…” bunyi pesan masuk di BB saya. Saya lihat, ada kiriman foto dari adik saya, sembari berpesan kalau mereka sudah tiba di Madinah dengan selamat. Alhamdulillah…

Mulailah dari hari Ahad itu, kegiatan umrah yang sudah disusun oleh pihak travel mereka jalani. Dan di hari-hari itu, saya sering berkomunikasi via BB, untuk menanyakan apa yang sedang dilakukan dan kondisi mereka –ayah saya- terutama, yang Alhamdulillah bisa mengikuti kegiatan itu.

Rabu siang, 20 Februari 2013

Tringgg…” pesan dari adik saya masuk ke handphone saya. Sebuah foto dia dan ayahku yang didorong kursi roda, tampak memakai baju ihram.

“Ini kami sedang thawaf malam2, makin malam makin ramai.” Saya pun bertanya kepadanya, apakah ayah masih bisa mengikuti kegiatan itu. Adik saya menjawab, “Alhamdulillah bisa, meski harus sabar dan pelan2..”

Syukurlah. Saya jawab, yang penting sehat selalu sampai berakhirnya acara ini dan pulang ke Surabaya dengan selamat.

Rabu malam, 20 Februari 2013.

Tringgg…” Saya baru saja selesai makan malam dengan istri dan anak-anak. Sejak tahu hamil dan masuk 3 bulan pertama, istri saya memang banyakan istirahat di rumah, karena sempat nge-flek beberapa waktu. Maka ketika ia sudah merasa sehat, ia ingin makan di luar bersama. Saya turuti keinginan itu.

Saya segera mengecek isi BBM adik saya itu.

Doakan kami supaya dapat penerbangan ke Surabaya hari ini atau besok!”

Saya pun terkejut. Ada apa? tanya saya.

Sehabis thowaf, ternyata ayah saya mengeluh kelelahan. Nafasnya agak sesak, seperti orang yang terkena flu. Badannya pun panas. Ia mengigau.Obat yang dibawa dari Surabaya sudah diminumnya.

Posisi saat itu, mereka sudah kembali ke hotel. Ayah sudah beristirahat di ranjang kamarnya. Karena sesak, ibuku pun turun ke lantai bawah, untuk membeli oksigen kaleng. Namun karena adzan sholat Ashar sudah dikumandangkan, maka toko di hotel pun tutup. Orang sedang bersiap-siap untuk sholat Ashar.

Akhirnya ia kembali ke kamar.

Sepurane (maaf) nggak bisa jaga ayah..” begitu kelanjutan isi pesan yang saya terima, “Jika meninggal mohon didoakan..”

Lho…??? Kok tiba-tiba bicara masalah meninggal? Saya pun panic.

Ayah ndak sadar om…

Saya pun minta ia segera minta bantuan medis ke dokter yang ada  disana. Ia pun sudah melakukannya, namun dokter yang ditunggu,belum tiba.

Belakangan ia baru cerita (setelah tahu ayah saya meninggal), bahwa ia sempat merasakan sakaratul maut, yang dialami ayah saya, yang menurutnya ada 2 kali cabutan. Cabutan pertama, membuat ayah saya, mengalami kesakitan dan yang kedua, setelahnya slep! Seperti orang tidur.

Saya pun minta segera ia mengirim saya foto kondisi ayah yang ia bilang sedang tidak sadar itu. Ketika foto itu saya terima, saya tahu ayah saya sudah tidak ada lagi. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Dari yang sedang tiduran di kamar anak-anak, saya pun bangkit. Memberi tahu istri saya yang sedang di kamar lain, memberitahukannya bahwa ayah saya meninggal.

Segera saya kirimkan SMS kepada saudara-saudara saya yang lain. Memberitahukan kondisi terakhir ayah yang sedang tak sadar itu.

Masih ada nafasnya tidak?” tanya saya lagi, karena belum ada statement official tentang ayah saya dari dokter.

Ini baru diperiksa dokter, sudah tidak ada denyut jantungnya om, maafkan aku nggak bisa jaga ayah…”begitu isi BBM berikutnya.

Airmata pun segera deras mengucur dari mata saya. Ayah saya sudah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….

Ditengah kekalutan itu, saya masih berkomunikasi dengan  adik saya. Tentang rencana penguburannya. Saya pribadi tak masalah jika jenazah ayah saya, dikuburkan di tanah haram itu. Saya juga meminta ijin kepada saudara-saudara saya lainnya. Mereka pun tak keberatan ayah dikubur di Makkah.

Saya segera minta adik saya untuk memberitahu ibu, bahwa kami ikhlas, bila ayah dimakamkan di sana. Saya mengirimkan pesan kepada ibu saya, menguatkannya, memintanya untuk ikhlas dan sabar.

Akhirnya, saya pun mengerti kepingan puzzle yang selama ini belum saya pahami. Ternyata, rencana Allah itu begitu mulia. Dia telah tentukan bahwa ayah saya meninggal di tanah suci. Walhamdulillah, proses dicabutnya ruh ayah saya dari badannya, sangat mudah. Dan sebelumnya, diawali dengan amalan-amalan sholih, seperti thowaf dan shalat Ashar meski dilakukannya dengan berbaring di ranjang kamar hotel. Dan ketika dikatakan mengigau oleh adik saya, ternyata ia juga menalqinkannya.

Berucap “Allah..Allah…” dan rupanya kalimat itulah yang ia bawa menghadap kehadiratNya. Allah, telah memberinya rencana yang begitu indah. Mudah-mudahan inilah yang disebut dengan khusnul khatimah itu. Mudah-mudahan, amalan ayahku diterima Allah ta’ala, dan segala dosa serta kekhilafan yang dilakukannya selama ini, diampuniNya.

Selamat jalan wahai ayahanda tercinta, Soehoed, yang nanti pada 1 Oktober 2013 akan genap berusia 72 tahun. Namun rupanya, Dia telah putuskan tanah Makkah sebagai labuhan terakhir untuk ayahku tercinta ini.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Doaku selalu menyertaimu wahai ayahku, Allahummaghfirlahu, allahummarhamhu…..

41 comments to Ayahku Memilih Makkah, Untuk Tempatnya Beristirahat (Selamanya)

  1. thetrueideas says:

    Barangsiapa keluar utk #umrah lalu meninggal dunia, mk ditulis utknya pahala #umrah hingga hari kiamat. (HR Abu Ya’la & dishohihkan albani)

  2. ayanapunya says:

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.. turut berduka cita, mas. semoga almarhum ayahnya mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT

  3. soraya says:

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un……ceritanya bkn saya jadi ikutan sedih. turut berduka ya mas. smoga pahala ayahnya diterima oleh Allah SWT dan keluarga bisa tabah, terutama ibu.

  4. cindycyrilia says:

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.. turut berduka ya pak syam..Semoga ayahanda ditempatkan di jannahnya dan bertemu lagi nanti dalam kebahagiaan surga. amiin..

  5. sikiky says:

    Nangis saya baca ini… :( (
    Ibu pasti kehilangan ya, pak…lebih dari separuh hidupnya dihabiskan sama almarhum :(
    Semoga dilapangkan kubur blio

  6. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Insya Allah khusnul khotimah. aamiin.

  7. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..
    turut berduka cita…..

  8. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Smg kuburnya di jadikan Riadhah min riadhil Jannah. Aamiin.

  9. nengwie says:

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… turut berduka cita.

    Mengaamiinkan semua doa…..

    Jadi ingat saat ayah pulang, sementara saya jauh disini…T_T

  10. tinsyam says:

    innalillahiwainnailaihirojiun.. semoga keluarga sudah iklas dan tawakal, ayahanda sudah damai disana.. amin..

  11. tipongtuktuk says:

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un …
    semoga Allah merahmati ayah Mas Syamsul …
    semoga Allah meluaskan tempatnya dan meninggikan kedudukannya … aamiin …

  12. Novi Kurnia says:

    Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Semoga Allah menerima Islam, iman, dan amal ibadah ayah mas syamsul. Amiin.

  13. JNYnita says:

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.. semoga khusnul khatimah..

  14. =)
    *mengaminkan do’a2 di sini..

  15. Dyah Sujiati says:

    Saya malah ngiri pada ayah njenengan #Lho?

    Amin, turut mengaminkan do’a-do’a di sini

    • thetrueideas says:

      saya masih punya saudara nenek (ibu ayah saya) yang masih hidup dan berumur 90 tahunan, beliau sudah bolak-balik menjalankan ibadah haji, mungkin lebih dari 3 kalian, harapannya cuman satu: mati di Makkah, namun Allah masih memberikannya umur panjang, maka tatkala ayah saya meninggal di sana, beliau menyatakan rasa irinya;

      kalau saya disuruh berangkat lagi ke sana saat ini juga, saya siap (bahkan) mati disana, namun apalah daya kondisi fisikku sudah tak memungkinkan lagi aku ke sana

      begitu komentarnya setelah mendengar meninggalnya ayah saya…

  16. Sovia says:

    Innaa liLLAAHi wa innaa ILAIHI rooji’uun..

  17. pemikirulung says:

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
    turut berduka pak syamsul..merinding bacanya..semoga husnul khatimah..kita juga nanti

  18. Mrs. Aditya says:

    Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.. Turut berduka ya pak. Semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kelapangan dan kesabaran…

    Setelah sekian lama baru kali ini berkunjung di rumah baru pak Syamsul, tadi baca thread di FB grup MP…

  19. omnduut says:

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… mungkin agak terlambat, tapi izinkan saya menyampaikan rasa duka cita yang mendalam ya mas. InsyaAllah, ayahanda dosanya diampuni dan mendapatkan tempat yang terbaik di dekat Allah SWT. Semoga keluarga tabah amin.

  20. arachmaran says:

    baru baca ini, innalillahi wa inna ilaihi roji’un…ikut meng-aamiin-kan semua doa2 baik diatas.. T_T

  21. Rizki Aji says:

    ALLAH lebih berkehendak atas orang yang kita sayangi dibandingkan dengan apa yang kita inginkan, turut berduka cita.. semoga Allah kuatkan hati keluarga yang ditinggalkan, semoga terkabul doa dan terijabah ampunan pinta..

  22. devinilasari says:

    Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun
    Allahumma firlahu warhammhu waafini wafuanhu wa akrim nujulahu

    Turut berduka cita ya Mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s